Tugas Kampus

 

SERLY A. MBOE (2007010122)

YUNIKE DJIALAL(2007010144)

 

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG

 

 

DBD Kembali meningkat di NTT : Bagaimana Penanganannya?

 

DBD (Demam Berdarah Dengue) adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti dan cara penularannya juga melalui gigitan nyamuk, namun hanya nyamuk Aedes Aegypti betina yang bisa menularkan virus dengue sedangkan nyamuk jantan tidak bisa.

Indonesia termasuk dalam Negara dengan kasus DBD yang tinggi, pada tahun 2020 data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus DBD di Indonesia ada 103.781 dengan kasus kematian sebesar 661 orang, tahun 2021 kasus DBD di Indonesia mencapai 68.614 dengan kasus kematian sebesar 664 orang, tahun 2022 jumlah kasus DBD  tercatat hingga 20 Februari 2022 ada sebanyak 13.776 dengan kasus kematian sebesar 145 kasus.

NTT termasuk salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai kasus DBD yang tinggi, tercatat sejak januari hingga awal maret kasus DBD di NTT sudah sebesar 1.572 dengan kasus tertinggi ada di Kota Kupang. Jika dilihat kembali pada tahun 2021 dari januari-februari kasusnya DBD mencapai 661 kasus sedangkan pada tahun 2022 dengan periode yang sama kasus DBD sudah tercatat sebesar 1.477, bisa di lihat  kasus DBD di NTT kembali meningkat sekarang. 

Apa yang menyebabkan kasus DBD di NTT kembali naik? Peningkatan DBD bisa terjadi karena kurangnya kepedulian dan penangan yang serius, lalu bagaimana dengan penangan DBD yang ada di NTT? Menanggapi kasus DBD yang cukup melonjak di NTT, Pemerintah melalui Dinas Kesehatan Kependudukan dan Catatan Sipil pada tahun 2022 telah menyurati semua Bupati dan Walikota Kupang agar serius menangani kasus DBD selain Covid-19, ada juga pendistribusian logistic DBD berupa Abate dan Malathion kepada 22 Kabupaten-Kota sejak Januari-Februari 2022, serta melakukan kunjungan dan peninjauan ke Kabupaten Sikka, Nagekeo, Ngada, Kota Kupang, dan Sumba Barat Daya untuk melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memutus mata rantai penularan oleh Tim Provinsi bersama Tim Kabupaten-Kota pada Januari 2022.

Pencegahan DBD biasanya hanya mengandalkan obat pembasmi nyamuk atau fogging padahal membasmi nyamuk bisa juga di lakukan dengan pengelolaan atau penanganan sampah dengan baik dan membuat sanitasi lingkungan menjadi baik, untuk melakukan ini bukan hanya tugas Pemerintah saja namun juga tugas masyarakat setempat.

Pencegahan DBD sebenarnya bukan hanya tugas Pemerintah saja tapi menjadi tugas bersama karena kondisi suatu lingkungan bergantung juga dari orang-orang yang tinggal. Cara membasmi nyamuk bisa di lakukan dengan membuang sampah pada tempatnya, menjaga lingkungan tetap bersih dan menerapkan 3M yaitu menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas. jika sanitasi lingkungan dijaga dengan baik maka penularan DBD bisa berkurang sehingga kasusnya juga bisa menurun, hal ini membutuhkan kesadaran dari masyarakat itu sendiri.

Jadi bisa disimpulkan bahwa untuk mengurangi penularan DBD sangat dibutuhkan penanganan yang serius baik dari Pemerintah maupun dari masyarakat itu sendiri, karena jika hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja maka pengendalian penularan DBD tidak bisa berjalan efektif.

kunjungi tik tok media halaman8

Komentar