Penipuan Dengan Catut PDI Perjuangan Disidangkan

HALAMAN8.COM – TTS-
Kasus dugaan penipuan yang dilakukan oleh terdakwa Eyodia S. Laukang dan Leonindo Dasilva, dengan mencatut Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten TTS.

Sidang yang dipimpin oleh hakim ketua Anwar R. Fauzi didampingi oleh dua hakim anggota masing-masing Muhamat Zaki Iqbal dan Philipus j. Nainggolan, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Saksi Ramla Sambuleng yang juga pelapor kasus tersebut di Polda NTT, memberi kesaksian kepada hakim, jika dua terdakwa itu menerima uang darinya senilai Rp 106.500.000, untuk mengakomodir 25 orang Aparatur Sipil Negara (ASN), serta biaya pendaftaran anggota DPC PDI Perjuangan untuk dirinya serta dua orang teman lainnya. Ramla tergiur menyerahkan uang, hanya karena kwitansi yang disodorkan kepada dirinya terdapat cap PDI Perjuangan. Dalam persidangan itu juga terkuak, jika Ramla tidak hanya dijanjikan oleh dua terdakwa itu sebagai anggota DPC PDI Perjuangan Kab TTS, melainkan juga akan menjadi anggota DPRD Kab TTS dengan melakukan Pergantian Antar Waktu (PAW) untuk fraksi PDI Perjuangan. Namun sebelum melakukan PAW, Ramla diminta untuk merekrut ASN dalam berbagai formasi sebanyak 25 orang dan masing-masing harus menyetor uang Rp 3. 750.000 kepada para terdakwa dengan cara mentransfer uang ke rekening milik Leonindo Dasilva. “Waktu itu katanya PNS yang kami rekrut itu, tidak tes karena ini langsung dari PDI Perjuangan pusat. Karena ibu Eyodia S. Laukang, sebagai koordinator umum relawan PDI Perjuangan di NTT. Karena katanya langsung dari pusat, sehingga saya percaya saja,” ujar Ramla yang adalah warga Kab Sumba Barat Daya (SBD).

Ramla menceritakan awal perkenalan dengan Eyodia S. Laukang dan Leonindo Dasilva melaui Petrus Patinangi. Saat itu, ia diceritakan oleh Petrus Patinangi, jika Eyodia S. Laukang dan Leonindo Dasilva, bisa meloloskan ASN tanpa melalui seleksi. Tergiur dengan penjelasan Petrus, maka Ramla pun menghubungi Leonindo melalui sambungan telefon dan akhirnya Ramla datang ke Kab TTS untuk menemui langsung Eyodia S. Laukang dan Leonindo Dasilva. Setelah pertemuannya dengan Eyodia S. Laukang dan Leonindo Dasilva, ia kembali ke SBD lalu merekrut ASN sebanyak 25 orang yang dijanjikan tanpa seleksi, ASN yang direkrut terdiri dari TNI/Polri dan juga pegawai kantoran lainnya. Namun janji itu tidak Teralisasi sejak tahun 2022 hingga persoalan itu dilaporkan olehnya di Polda NTT. “Setelah saya transfer uang, janji tunda terus akhirnya saya dituntut oleh orang-orang yang saya rekrut dan akhirnya saya laporkan kasus ini di polisi,” katanya.

Ketua DPC PDI Perjuangan, Mordikay Liu yang juga dipanggil sebagai saksi dalam kasus tersebut memberikan kesaksian, jika Eyodia S. Laukang dan Leonindo Dasilva bukan merupakan pengurus DPC PDI Perjuangan Kab TTS. Secara sistim juga pihaknya telah melakukan pengecekan, jika dua orang itu yang saat ini menjadi terdakwa penipuan tidak ada dalam salah satu struktur kepengurusan DPC PDI Perjuangan Kab TTS. “Kami sudah cek di SIPOL kami, dua orang ini (Eyodia S. Laukang dan Leonindo Dasilva,red) tidak ada dalam kepengurusan DPC PDI Perjuangan Kab TTS,” tegas Mordikay.

Mordikai ketika ditanya hakim apakah PDI Perjuangan, memiliki program perekrutan ASN seperti yang dikatakan oleh para terdakwa, ia menegaskan bahwa ia sejak menjadi anggota pengurus DPC PDI Perjuangan sejak 2004 hingga menjabat ketua DPC PDI Perjuangan Kab TTS, tidak ada program yang namanya perekrutan ASN. “Selama ini, saya tidak pernah dengar kalau PDI Perjuangan rekrut ASN,” tutur Mordikay. (Rey)

kunjungi tik tok media halaman8

Komentar