Natal Sudah Dekat, Apa Kabar Anak Rantau

Writer : Rhey Natonis

Dalam dinginnya udara Desember, tanda-tanda Natal mulai terasa. Namun, bagi anak rantau, getaran itu menyentuh hati dengan kepedihan. Di balik kilau lampu-lampu kota yang berwarna-warni, hati mereka tetap membawa kerinduan yang sulit diungkapkan. Penuh nostalgia, anak rantau merenung tentang kampung halaman yang kini jauh di sana.

Ingatan akan aroma kue-kue tradisional dan lagu-lagu Natal yang dinyanyikan bersama keluarga membuat hati mereka terenyuh. Meski jarak memisahkan, kampung halaman tetap terpatri dalam kenangan, dan setiap lampu hias Natal mengingatkan bahwa mereka hanya bisa merayakan kehangatan itu dalam lamunan.

Pulang menjadi impian, tetapi kenyataannya adalah seberang sana lautan dan daratan yang memisahkan. Anak rantau merindukan pelukan hangat ibu, tawa riang saudara-saudara, dan cerita-cerita di malam sebelum Natal. Kegelapan malam tak bisa menyembunyikan air mata yang tergugah oleh kerinduan yang semakin mendalam.

Di antara keramaian perayaan, anak rantau merasa seperti penonton yang terpinggirkan, menyaksikan kebahagiaan orang lain sementara mereka sendiri terperangkap dalam kesendirian. Natal di kampung halaman mereka bukan hanya tentang pohon cemara dan kado-kado, tapi tentang kehangatan keluarga yang sulit digantikan oleh apapun.

Saat malam Natal tiba, anak rantau hanya bisa merasakan kehangatan itu melalui panggilan video dan pesan singkat. Sementara pesta meriah terjadi di kampung halaman, hati mereka tetap berdegup sepi, menciptakan melodi kesedihan yang tak terdengar oleh siapapun.

Maka, di bawah langit yang dipenuhi bintang Natal, anak rantau merenung di balik jendela, membiarkan nostalgia dan kerinduan membentuk bayangan yang menyelimuti hati mereka. Sebuah kisah sedih tentang tanda-tanda Natal yang hanya menguatkan kerinduan anak rantau akan kehangatan kampung halaman yang jauh di sana.

kunjungi tik tok media halaman8

Komentar