Membawa Harapan dengan Teknologi, Kisah Inspiratif Kolonel Cpl Simon Petrus Kamlasi di NTT

halaman8.com – SoE – TTS

Penulis : Rhey Natonis

Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai daerah yang keras dan kering, di mana air menjadi komoditas langka yang sangat berharga. Masyarakat sehari-hari bergantung pada sungai dan sumur untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah kekurangan air, terutama saat musim kemarau melanda.

Di tengah kondisi yang sulit ini, muncul seorang pahlawan dari tanah NTT, Kolonel Cpl Simon Petrus Kamlasi. Lahir di Kabupaten Timor Tengah Selatan pada 14 April 1975, Simon tumbuh di tengah kemiskinan namun memiliki semangat yang kuat untuk membuat perubahan bagi daerahnya yang kering.

Kepada wartawan saat dijumpai di bilangan Kota Kupang Sabtu, 30 Maret lalu, sambil berdiskusi lepas, Simon membagikan pengalaman masa kecilnya yang penuh perjuangan, menghadirkan tekad dalam dirinya untuk mengubah nasib daerah kelahirannya. Simon masih jelas mengingat bagaimana di masa kecilnya, ia dan tetangga harus berjalan jauh menuju sumber air untuk mendapatkan air bersih. Pemandangan ini sangat berbeda dengan kehidupan di kota besar, di mana akses air bersih lebih mudah diperoleh.

Setelah puluhan tahun menjalani karirnya di luar NTT, Simon kembali ke kampung halamannya dengan satu tujuan yang teguh: mengatasi masalah kekeringan yang telah lama menghantui masyarakat. Saat ini, ia menjabat sebagai Kasrem 161/Wira Sakti Kupang, NTT, dan telah mengabdikan dirinya untuk membantu mengatasi masalah air di daerah tersebut.

Simon, dengan latar belakang keluarga yang sederhana, awalnya bermimpi menjadi seorang insinyur. Namun, dengan keterbatasan ekonomi, ia memilih untuk bergabung dengan TNI AD. Pengalaman dan kesungguhannya dalam mengatasi kesulitan hidup, membentuknya menjadi seorang prajurit yang berdedikasi dan inovatif.

Salah satu prestasi gemilang Simon adalah pengembangan teknologi pompa hidrolik yang revolusioner (masif). Berdasarkan prinsip mekanika fluida, pompa ini mampu mengangkat air dari lembah ke pegunungan tanpa menggunakan bahan bakar atau listrik, sehingga hemat energi dan mudah perawatannya.

Prestasinya tidak hanya diakui oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh pimpinan TNI AD. Ketekunan sang Kolonel dan didukung penuh oleh pimpinan TNI maka hingga saat ini, melalui program TNI AD Manunggal Air, jumlah titik pompa meningkat tajam dari 13 titik pompa hidrolik yang semula telah dipasang di daerah-daerah terpencil di NTT menjadi 243 titik pompa hidrolik dan Sumur Bor, dan saat ini (skala Nasional) sudah 1345 titik yang tersebar di seluruh tanah air.

Dari 1345 titik kata, Kasrem diperkirakan kurang lebih sudah enam ratus ribu jiwa yang tertolong.

Dukungan masyarakat terhadap inovasi Simon sangat besar. Mereka turut serta dalam setiap tahap, mulai dari perencanaan hingga pemeliharaan, sebagai wujud partisipasi mereka dalam mengatasi masalah air yang telah lama melanda daerah mereka.

“Pengalaman menunjukkan bahwa dengan ketersediaan air, banyak masalah mendasar dapat di atasi seperti stunting, ketahanan pangan dan bermuara pada kesejahteraan masyarakat”, cetusnya

Simon menyadari pentingnya kerja sama antara TNI AD dan masyarakat dalam menghadapi tantangan seperti kekeringan. Kehadiran TNI AD bukan hanya sebagai penjaga negara, tetapi juga sebagai mitra dalam membangun kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Kisah Kolonel Cpl Simon Petrus Kamlasi mengajarkan kita tentang kekuatan tekad, inovasi, dan kerja sama dalam mengatasi masalah yang kompleks. Ia membuktikan bahwa dengan semangat yang kuat dan tekad yang bulat, tidak ada yang tidak mungkin untuk meraih perubahan yang positif, bahkan di tengah tantangan seberat apapun.

kunjungi tik tok media halaman8

Komentar