Djemi Lassa, Ada Tiga Permasalah Utama Penggusuran Di Besipae

HALAMAN8.COM / SOE / TTS-

Persoalan lahan peternakan di Desa Linamnutu,Kecamatan Amanuban Selatan,Kabupaten TTS yang berkepanjangan hingga saat ini Pemprov NTT telah menggusur 14 rumah yang dibangun pada tahun 2020 lalu.

Penggusuran yang dilakukan Pemprov NTT, Kamis 20/10/2022.tampaknya menyita perhatian warga net di berbagai macam media sosial.

Djemi Lassa,Salah satu politisi Muda asal Kabupaten TTS yang saat ini menjabat sebagai ketua Kadin Kota Kupang,saat diterima rilisan nya kepada halaman8.com melalui pesan WhatsApp, pada Senin 24 Oktober 2022 mengatakan,Pihaknya menilai kejadian Besipae itu ada tiga permasalahan utama penggusuran yang dilakukan Pemprov NTT.

Persoalan Hukum dan Status Tanah
menurutnya, Pemprov mengklaim bahwa itu adalah tanah milik Pemprov yang sudah diserahkan oleh Tua adat pada saat itu. Kalau hal ini di anggap tidak sah, Masyarakat boleh menggugatnya. toh pemerintah punya bukti kepemilikan Sah, Perwakilan Masyarakat bisa menggugat bukti kepemilikan Pemprov secara hukum.

Keadilan
Kalau Pemerintah Sah bahwa  tanah seluas 3.780 Hektar adalah sah milik Pemerintah, maka penggusuran juga harus dilakukan serentak di seluruh lahan di beberapa desa yang termasuk dalam 3.780 Hektar tersebut. Kalau hanya 14  KK saja yang di gusur, maka Pemerintah tidak Adil dalam bersikap.

Kemanusiaan
Pemerintah sebagai Pengayom Masyarakat, Orang Tua bagi Masyarakat harus bisa memberikan solusi bagi 14 KK yang ada di lahan tersebut. Apa artinya Pemerintah memberikan Areal khusus bagi 29 KK Tersebut, tanpa menghancurkan rumah yang dibangun untuk mereka dibanding dengan 3.780 Hektar tanah Pemprov.  Areal khusus ini hanya untuk fasilitasi agar mereka juga berperan dalam membantu Projects yang akan dikerjakan oleh Pemprov. Artinya  proses negosiasi harus berjalan, secara kekeluargaan dan menjunjung tinggi budaya orang TTS.

selain itu Djemy juga meminta,Pemerintah kabupaten TTS juga harus secara aktif membantu 14 KK yang kehilangan Rumah setelah di hancurkan oleh Pemprov NTT, dan memberikan solusi karena  bagaimana pun mereka adalah saudara kita. mereka tidak butuh rumah mewah, mereka butuh saudara yang bisa hadir bersama mereka. agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri, tapi masih ada pemerintah yang berdiri bersama sama mereka disaat mereka harus kehilangan tempat tinggal. urai Djemy

Djemy juga berharap, Pemprov NTT bisa duduk bersama masyarakat  untuk mencari solusi yang terbaik dengan tidak harus menciderai salah satu pihak, apalagi rakyat Kecil di Besipae.

Ia juga meminta para anggota DPR Propinsi NTT juga, harus berinsiatif membangun komunikasi dengan Pemprov NTT, agar proses ini bisa berjalan dengan baik dan mendapatkan solusi-solusi terbaik.

Diberitakan sebelumnya : Warga Besiapae Digusur Pemprov Hingga Kehujanan Dan Teriak Minta Tolong

Persoalan lahan peternakan di Desa Linamnutu Kecamatan Amanuban Selatan, rupanya akan terus berkepanjangan. Bagaimana tidak, rumah seng berdinding bebak ukuran 5×7 yang sebelumnya dibangun oleh Pemprov NTT pada tahun 2020 lalu, kembali digusur pada Kamis 20/10/2022

awalnya penggusuran itu sempat dihalangi oleh warga setempat, namun Pemprov NTT melalui Badan Aset Provinsi NTT dikawal ketat oleh aparat keamanan Brimop, Polisi dan TNI dan penggusuran tetap dilakukan.sehingga saat itu pula warga mempersilahkan Pemprov NTT untuk gusur dengan mengatakan,masyarakat Besipae akan tetap tinggal di kawasan Besipae. Pasalnya Pemprov NTT hingga saat ini tidak bisa membuktikan kepemilikan lahan di Besipae.

Dikatakan salah satu warga Niko Manao yang juga adalah warga Besipae bahwa, mereka hanya menginginkan Pemprov NTT, menunjukan batas lahan yang dimiliki oleh Dinas Peternakan Provinsi NTT, jika Pemprov NTT menunjukan batas lahan yang dimiliki, maka tanpa digusur ataupun diusir keluar dari lokasi Besipae, ia akan dengan inisiatifnya keluar dari kawasan Besipae. “Kenapa Pemprov NTT tidak bisa tunjuk batas-batas, kok hanya tunjuk batas saja tidak bisa ini ada apa,” tanya Niko.

Terpantau,barang-barang warga yang hendak di gusur, sebelumnya dikeluarkan oleh pemprov NTT.sehingga sekitar pukul 16.00 pemprov berhasil menggusur 7 buah rumah.Namun sekitar pukul 16 : 11 terjadilah curah hujan sehingga  warga yang di gusur beserta anak-anak kecil itu basah ditimpa hujan lantas tidak ada tempat untuk berlindung.

Tak tega melihat anak-anak kecil beserta berang-barang warga itu basah ditimpa air hujan, beberapa orang tua sempat menangis dan meminta tolong dengan menyebut-nyebut nama Presiden RI.
“Pak presiden tolong kami, tolong perhatikan kami, kami ini warga Indonesia kenapa kami dibuat seperti ini” Ujar Daud dalam pantauan wartawan.

Demikian hal tersebut wartawan mencoba mengkonfirmasi
Kepala Aset Provinsi NTT, Alex Lumba namun Alex mengatakan,akan berkomentar setelah proses penggusuran selesai.

Penulis : Rhey Natonis
kunjungi tik tok media halaman8

Komentar