Diduga Dana Desa Leonmeni 20% Dipermainkan Elit-Elit Desa Nakal

HALAMAN8.COM – SOE – TTS

Dana Desa di wajibkan 20% untuk program Ketahanan Pangan, Hewani dan Nabati yang di tetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa T.A 2022 yang bertujuan untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat Desa.Teknis pelaksanaannya untuk sampai ke masyarakat penerima manfaat diatur dalam Peraturan Mentri Dalam Negeri No.20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa dan turunannya adalah Peraturan Bupati Timor Tengah Selatan No 63 Tahun 2020 tentang Tatacara Pengadaan Barang/Jasa.

Kasei/Kaur adalah ujung tombak pelaksanaan setiap kegiatan yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDesa) dan dapat di bantu oleh Tim Pengelola Kegiatan (TPK).Namun di Desa Leonmeni, Kecamatan Boking, Kabupaten TTS, Provinsi NTT. Diduga ada kepentingan sepihak dalam pengadaan barang/jasa (babi) untuk masyarakat. Senin, 20/03/2022. Pukul 12.07 WITA.

Klik link di bawah untuk menonton👇👇👇👇

https://youtu.be/nv27abqwcNg

Diwawancarai halaman8.com Ketua Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Desa Leonmeni, Aleksander Fina di kediamannya mengatakan bahwa, “kami Tim Pengelola Kegiatan (TPK) pernah ke soe untuk survei babi, sesampainya kami di soe untuk survei dan ternyata ada babi yang sesuai target namun dari situ kami tidak bisa bawa karena virus masih ada lalu kami pending pengadaan” Ujar Fina

Lanjutnya, tiba-tiba hari kamis (16/03/2023) sekitar pukul 23 :00 WITA, saya di informasikan melalui telepon seluler oleh Kepala Desa Leonmeni Zet Nokas untuk pergi ke kantor Desa agar bersama-sama membagikan anak babi kepada masyarakat. Sesampainya saya di sana, saya kesal karena babi yang ada tidak sesuai dengan hasil survei kami waktu itu. Namun saya tidak pertanyakan karena saya tidak tahu harganya karena kami Tim Pengelola Kegiatan (TPK) tidak pernah pegang Rencana Anggaran Biaya (RAB), yang kami terima hanya Surat Perintah Kerja (SPK).

Dengan waktu yang bersamaan Aleksander Fina selaku ketua Tim Pengelola kegiatan (TPK) menyatakan bahwa saya sempat pertanyakan kepada penyedia apakah babi ini sesuai dengan spek atau tidak namun jawaban yang saya dapatkan dari penyedia (Semi Banunaek) itu bahwa saya didesak oleh Kepala Desa untuk segera mengantarkan babi ke kelompok yang ada di Desa Leonmeni.

Di wawancarai Kepala Desa Leonmeni, Zet Nokas di Kantor Desa terkait Tim Pengelola Kegiatan (TPK) kerja tanpa Rencana Anggaran Biaya (RAB), Kepala Desa menjelaskan bahwa memang betul, waktu itu Pelaksana Pengelola Keuangan Desa (PPKD) yang memberikan saya Rencana Anggaran Biaya (RAB) namun saya lupa untuk membagikan lagi untuk Tim Pengelola Kegiatan (TPK) pegang. Sehingga pada hari, kamis 16/03/2023 jam 23:00 WITA itu saya datang tunggu pihak ketiga di Kantor Desa untuk kasih turun babi .sesampainya penyedia di Kantor Desa, kami langsung bagikan di nama-nama penerima manfaat.

Diwawancarai terpisah Pelaksana Pengelola Keuangan Desa (PPKD) Rince Letuna menyatakan bahwa hari kamis sekitar jam 20.00 WITA saya pulang dari soe menuju rumah. Sesampainya di depan rumah Bapak Nani, kepala desa dengan sendirinya panggil saya lalu sampaikan bahwa penyedia  sudah dalam perjalanan untuk antar babi.

Lanjutnya, setelah mendapatkan informasi dari kepala Desa, saya lanjut perjalanan menuju rumah. Jumat pagi saya cek babi yang di bagikan kepada masyarakat penerima manfaat ternyata tidak sesuai. Saat itu juga, saya temukan sudah ada 4 babi yang mati.

Rince Letuna selaku Ketua Pelaksana Pengelola Keuangan Desa (PPKD) menduga bahwa kegiatan ini sudah ada kepentingan sepihak karena harga di dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) Rp. 2.500.000 namun kenyataannya yang ada dilapangan diperkirakan harga babi yang ada Rp. 500.000 sampai Rp. 750.000 per ekor.

Dari hasil pantauan media ini, salah satu Masyarakat penerima manfaat yang tidak mau menyebutkan namanya mengatakan bahwa bantuan dari pemerintah ini bukan buat kami berkembang namum buat kami menambah beban karena babi terlalu kecil dan tidak mau makan saat berikan makanan. sehingga kami rencana mau kasih pulang babi ke pihak pemerintah Desa Leonmeni karena babi terlalu kecil namun kami takut karena pemerintah nanti beranggapan bahwa masyarakat melawan pemerintah. Dari situ juga kami selaku penerima manfaat takut babi mati. Lalu babi seperti ini kalau di sekitar Leonmeni atau juga di pasar boking Rp. 500.000 sampai Rp. 750.000 per ekor.

Maka dari sini dapat di duga kuat bahwa adanya pemanfaatan program 20% Dana Desa oleh oknum-oknum di desa untuk memperkaya diri, dan dapat disimpulkan bahwa praktek kerja seperti ini, tahun ke tahun angka kemiskinan bukan berkurang namun bertambah.(SN)

 

kunjungi tik tok media halaman8

Komentar